Kyai Wahhab Lebih Sakti Dibanding Bung Karno

Dalam sebuah kesempatan, terjadi diskusi serius antara Kyai Wahhab Chasbullah dengan Bung Karno perihal kebangsaan. Sudah barang tentu, adu argumen mewarnai perdebatan akrab tersebut. Memang konsep kebangsaan republik ini tidak bisa dilepaskan dari ide-ide dua sosok tersebut.

Tampak kuwalahan, Bung Karno yang kharismatik itu mengeluarkan jurus pamungkasnya dengan nyeblek (memukul ringan dengan pukulan akrab) pundak Kyai Wahhab dan berkata: “kali ini kyai harus mengikuti gagasan saya.” Sejenak Kyai Wahhab tertegun tidak bisa bicara sekitar 5 menit.

Ketika kesempatan berpindah tangan, kyai nyentrik yang tidak kalah kharismatik itu pun ganti nyeblek pundak si Bung Besar itu dan balas berkata: “Maaf, sepertinya Bung yang harus ikut gagasan saya.” Hampir setengah jam Bung Karno tertegun tidak bisa berkata-kata.

Lalu Bung Karno berkata: “Ah… Kyai Wahhab lebih sakti dibanding saya.”

(Rizal)

Kematian Ibarat Magnet

Barangkali, bagi segenap manusia yang telah terbalut jubah duniawi, kematian adalah paksaan untuk melepas jubah tersebut menuju alam kegelapan yang menakutkan dan mengerikan.

Tubuh indah nan dipuja itu pun perlahan ditelan bumi yang hanya menyisakan tulan- belulang yang tak seorangpun sudi mendekat. Gemerlap canda-tawa dunia tinggal kenangan. Kehangatan bersama orang-orang terkasih di dunia menjadi ingatan yang menyakitkan. Ratapan untuk sejenak memutar kembali lembaran kehidupan duniawi hanyalah menjadi harapan hampa.

***

Melihat foto orang-orang terkasih di dinding yang tidak sedikit di antara mereka telah meninggalkan dunia ini dan mendengar kabar satu-persatu sahabat telah dipanggil menghadap Sang Kuasa, menyisakan satu kesimpulan “tinggal menunggu giliran”.

Di usianya yang kian beranjak menuju senja, barang kali hal tersebutlah yang mendorong James Hetfield dan kawan-kawan untuk memberi tajuk albumnya dengan Death Magnetic. Mereka mendefinisikan kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, menyeramkan dan semua orang ingin lari darinya, namun ia bagaikan magnet yang selalu menarik manusia untuk mendekat dan cepat atau lambat manusia akan sampai kepadanya. Entah, sekedar hasil renungan atas perjalanan jiwa mereka yang alami ataukah, barang kali, memang berdasarkan teks suci.

Baik Metallica di panggung konser ataupun ustadz di mimbar khutbah, mereka seakan menyampaikan pesan yang sama, atau mungkin mirip. Hampir tiap jumat kita mendengar kutipan surat Al-Jumu’ah ayat 8:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu…….”

Namun makna kematian tentu sangat berbeda bagi manusia yang menganggap dunia ini hanya tempat mampir mencari bekal. Simak misalnya do’a Nabi Yusuf AS yang setelah mendapatkan kenikmatan yang luar biasa setelah bertahun-tahun dirundung duka justru berdoa agar diwafatkan oleh Allah SWT dalam keadaan Islam dan digolongkan dalam kumpulan orang-orang (QS. Yusuf: 101), bukan do’a agar kenikmatan dunia tersebut dikekalkan.

رَبّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.

Kapan ya giliran saya dan Anda?

Candi Olo

Pancaran kuning sinar matahari semakin memerah pertanda ia akan segera menuju peraduannya. Gerombolan burung walet pulang ke sarang menghiasi langit mengabarkan bahwa hari akan segera gelap. Saat ghurub akan segera tiba. Siang akan berganti malam.

Orang Jawa menyebut tahap tersebut dengan Candi Olo atau Cande Olo. Memasuki waktu ini, manusia harus sudah berhenti dari aktivitas keduniaan. Penggembala memasukkan ternaknya ke kandang. Pedagang menutup tokonya. Pengrajin mengemasi peralatannya. Nelayan memastikan jangkar perahunya telah tertancap dan rapat di tepi. Bahkan, jika ada yang akan bepergian, hendaknya menunda keberangkatannya minimal sampai setelah mengerjakan sholat Maghrib atau lebih baiknya lagi setelah mengerjakan shalat Isya’. Yang tidur pun harus bangun dan yang sangat mengantuk harus menahannya minimal sampai setelah melakukan shalat Maghrib atau Isya’.

Melakukan aktivitas keduniaan pada waktu Candi Olo ini diyakini masyarakat Jawa akan berdampak negatif terhadap aktivitas tersebut, apalagi untuk bermain-main. Orang tua dulu sering mengingatkan anaknya untuk berhenti main Benthik, Nekeran atau sejenisnya karena Wewe Gombel siap menerkam. Anak-anak pun bergegas pulang dan bersiap-siap menuju langgar/surau sambil memeluk erat Al-Qur’an di dadanya. Shalat Maghrib adalah sholat dengan batas waktu yang paling singkat. Sedemikian singkatnya, menurut kitab Taqrib jika sholat-sholat lain mempunyai beberapa waktu (fadlilah, jawaz, makruh tanzih dan tahrim dan sebagainya), maka waktu sholat Maghrib hanya satu, yaitu mulai terbenamnya matahari sampai waktu yang cukup untuk adzan, wudlu’, menutup aurat, iqomat dan mendirikan sholat 5 rokaat (3 rokaat sholat Maghrib dan 2 rokaat sholat Ba’diyyah Maghrib).

Oleh karenanya, orang tidak bisa lagi bersantai-santai menunda pelaksanaan sholat maghrib. Mitos Candi Olo ini justru semakin mendorong masyarakat untuk lebih awal bergegas melakukan persiapan shalat Maghrib secara berjamaah, baik di Surau, Masjid maupun di rumah bersama keluarga. Biasanya, 10 s.d 5 menit sebelum masuk waktu maghrib Langgar dan Masjid sudah ramai para jama’ah. Praktis sholat berjama’ah dapat dilaksanakan dengan tenang, tertib dan khusyu’ tanpa gangguan suara berisik ma’mum masbuq yang telat.

Nuansa relijius nan damai, khidmat dan khusyu’ pun menyatu padu dengan mitos Candi Olo. Suara Bedhug yang bertalu-talu, gema Adzan yang melengking sahut-menyahut,  semarak nyanyian syi’ir puji-pujian semacam Tombo Ati sebelum lafadz Iqomat dikumandangkan, lantunan Ayat-ayat Al-Qur’an, terutama surat Yaasiin dan Al-Kahfi serta Tahlil pada malam Jumat, semuanya terpadu bagai sebuah orkestra abadi yang melampaui perubahan masa. Hati siapa tak tersayat-sayat mendengar alunannya. Jiwa siapa tak tergetar meresapi maknanya. Raga siapa tak takluk dipeluk kemegahannya. Manusia pun bersujud tak berdaya kepada Sang Pengatur Jagat Kang Moho Murbowaseso sebagaimana sang mentari yang telah meringkuk di balik ufuk tak lagi garang menyengat. (Rizal)

Lebih Sakral dan Khusyu’ dengan Bedhug Penetek

Hari Jumat adalah sayyidul ayyaam. Banyak keistimewaan yang ada pada hari tersebut. Salah satu yang membedakan hari tersebut dengan hari-hari lainnya adalah adanya kewajiban menunaikan Sholat Jumat secara berjamaah, bagi yang memenuhi syarat-syarat wajibnya tentunya.

Begitu istimewanya, para santri dan warga di pelosok desa memilihnya sebagai hari libur dari aktivitas keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Sang Moho Murbowaseso.Pada malam harinya, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan kalimat-kalimat thayyibah menggema dari berbagai penjuru melalui corong pengeras suara. Saat pagi menyambut, selepas menunaikan sholat shubuh dengan berbagai wirid-nya, para warga biasanya melakukan kerja bakti membersihkan desa, terutama jalan umum dan kuburan. Bagi yang bekerja, agenda berikutnya adalah bekerja setenagh hari; pergi ke sawah atau ke pasar.

Demikian halnya dengan warga desa Sendangduwur. Untuk mengingatkan warganya yang sedang melakukan aktivitas, jauh waktu sebelum masuk waktu shalat Jumat, Merbot masjid sudah memukul Bedhug. Jika pada siang hari pada hari-hari biasa Bedhug dipukul pada saat memasuki waktu shalat zhuhur, tidak demikian halnya pada hari Jumat.

Pada hari Jumat, Bedhug dibunyikan sebanyak dua kali; menjelang masuk waktu dan pagi hari sekitar pukul 9. Bedhug yang dibunyikan pada pukul 9 pagi ini, oleh orang Sendang, disebut dengan Bedhug Penetek (suku kata “pe-ne-tek” dibaca seperti “pe” dalam “pedang”, “ne” dalam “neraka”, dan “tek” dalam “tekan”) atau disebut juga dengan Bedhug Cilik atau Bedhug Kecil. Praktis, aktivitas warga pada hari Jumat tidak akan seleluasa pada hari-hari lain karena suara Bedhug Penetek tersebut akan menggerakkan hati untuk segera meninggalkan aktivitas keduniaan dan melakukan persiapan menuju masjid. Sebagian di antara mereka ada yang langsung meninggalkan urusan dunianya dan bergegas menuju masjid untuk ber-i’tikaf. Bedhug selanjutnya dipukul 5 menit sebelum masuk waktu shalat secara terus menerus mengiringi lantunan Shalawat Tarhim, dan berhenti ketika adzan pertama akan dikumandangkan.

Dengan demikian, ketika adzan pertama dikumandangkan diharapkan seluruh warga sudah berkumpul di Masjid, dan pada saat adzan kedua shaf sudah tertata rapi. Khutbah Jumat pun dimulai dalam suasana yang sangat tenang dan tidak gaduh. Tata cara yang demikian ini telah mentradisi turun-temurun hingga membuat suasana pada hari Jumat serasa lebih sakral dan khidmat.

Apa yang telah mentradisi di desa Sendangduwur itu tidak lain hanyalah meneruskan apa yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Utsman ibn ‘Affan ra dengan perpaduan budaya setempat. Adzan Jumat sejak masa Nabi saw hingga masa khalifah kedua hanya sekali, yaitu ketika khathib duduk di atas mimbar. Ketika jumlah kaum muslimin telah semakin banyak yang tersebar di berbagai pelosok, Sayyidina Utsman kemudian berijtihad untuk menambah adzan pada saat masuk waktu sholat. Adzan tambahan ini pada masa Utsman dilakukan di sebuah tempat yang bernama zaura’ (زوراء), yaitu sebuah tempat di pasar, ada yang mengatakan sebuah tempat yang tinggi seperti menara dan ada juga yang mengatakan batu besar yang ada di pintu masjid.

Dengan demikian urutannya adalah adzan pertama saat masuk waktu shalat, adzan kedua saat khathib di atas mimbar dan iqomat pertanda saat shalat Jumat siap segera dimulai. Ijtihad Utsman ini kemudian menjadi Ijma’ Sukuti dan diteruskan oleh para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’iin dan seterusnya hingga ke desa Sendangduwur. Oleh para pendahulu desa Sendangduwur, tidak hanya adzan yang ditambah, tapi juga pemukulan Bedhug. Semua ini tentu demi ke-khusyu’-an pelaksanaan sholat Jumat. Demikain kearifan Sunan Sendang beserta murid-muridnya memasukkan nilai-nilai Islam dalam kultur masyarakat Sendangduwur. (Ahmad Rizal)

Kyai Hamid dan Bendera Merah Putih

Apalah arti sebuah simbol. Mungkin bagi segenap kalangan, simbol bukanlah hal yang terlalu penting untuk dipermasalahkan.

Ternyata, pemerintah Kolonial Belanda, kala itu, termasuk kalangan yang mempermasalahkan simbol. Para muassis Republik Indonesia pun harus berurusan dengan penjara, hanya karena nama Indonesia. Bahkan, konon, pesantren pun turut menjadi intaian mata-mata Belanda hanya karena mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Tidak lain adalah karena nama Indonesia dan lagu Indonesia Raya merupakan simbol perlawanan nasional kaum pribumi Nusantara dalam rangka membebaskan tanah air-nya dari kolonialisme Belanda kala itu.

Satu lagi simbol yang juga mengusik pemerintah kolonial kala itu, bendera Merah Putih. Hingga kini, ketiga simbol tersebut adalah identitas Nasional yang begitu melekat dengan segenap tumpah darah kaum pribumi Nusantara. Tidak jarang kita temukan tetes haru dan bangga mengiringi ”ritual” pengibaran bendera Merah Mutih, yang melambangkan keberanian dan kesucian itu. Terutama ketika memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, atau momen sakral nasional lainnya.

Salah satu pesan penting dalam ritual hormat kepada sang Merah Putih adalah sebagai simbol rasa syukur dan bangga atas kemerdekaan negeri Indonesia. ”Memberikan penghormatan kepada bendera, apa tidak termasuk musyrik atau bid’ah? Kenapa tidak langsung saja kepada Allah SWT?” Setidaknya, pertanyaan demikian sempat menjadi polemik tersendiri. Berikut kiat jitu KH. Abdul Hamid Tambakberas (adik dari KH Abdul Wahhab Chasbullah) menyikapi polemik tersebut. Kyai Hamid menyodorkan ibarot yang berupa syi’ir berikut:

أمر على الديار ديار ليلى # أقبل ذا الجدار وذالجدارا

وما حب الديا ر شغفن قلبى # ولكن حب من سكن الديارا

Syi’ir tersebut didendangkan oleh Qays Majnun yang dipersembahkan untuk Layla, sang kekasih pujaan hati. Melalui syi’ir tersebut, Qays menceritakan bahwa ketika melintasi rumah Layla, dirinya menciumi sudut-sudut tembok rumah Layla. Pada hakekatnya, bukan Qays mencintai tembok rumah tersebut, tapi karena mencintai penghuninya, yaitu Layla.

Demikian juga dengan penghormatan terhadap Bendera Sang Merah Putih. Pada hakekatnya penghormatan itu bukan ditujukan kepada jenggereng (fisik) bendera yang hanya terbuat dari selembar kain, tapi ditujukan kepada Dzat Yang Maha Kuasa Sang Pemberi Kemerdekaan, Allah SWT melalui perantara para pejuang dan syuhada. Oleh karenanya, sangat tepat jika setelah bendera berkibar di atas langit, sesi selanjutnya adalah mendoakan arwah para syuhada atau sering dikenal dengan sesi ”mengheningkan cipta” dengan menundukkan kepala ke arah tanah tempat kita akan kembali nanti menyusul para syuhada yang telah mendahului kita dan meninggalkan megahnya dunia. (Rizal)

Petuah (2); Mentjapai Indonesia Merdeka

Sama dengan buku favorit penulis sebelumnya, buku ini tipis, simpel, dan padat-berisi. Memang, menggambarkan watak muallif-nya, susunan kalimatnya terkesan berkobar-kobar dan berkoar-koar hingga membuatnya terkesan kurang ilmiah, namun pesan-pesan yang ada di dalamnya sangat layak untuk diperhatikan. Ya, buku tersebut adalah ”Mentjapai Indonesia Merdeka” karya salah seorang muassis Republik Indonesia yang juga mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno. Karena dia seorang Insinyur yang ”dikutuk” menjadi Presiden Pertama RI, mungkin lebih tepat disebut sebagai arsitek negara Republik Indonesia. Apalagi di masa-masa awal kemerdekaan si Bung Besar ini sering menyebut istilah caracter building. Menjelang detik-detik peringatan Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI, tepat untuk menghadirkan karya tersebut.


Lagi

Petuah (1): Hikmah dari Taurat

Jika penulis ditanya buku favorit, maka salah satunya adalah Syarh Nashâihul ‘Ibâd karya Syeikh Muhammad Nawawi ibn ‘Umar al-Jawi rahimahullâhu wa nafa’anâ bihî wa bi’ulûmihî. Kitab ini simpel, ringkas, padat dan berisi namun berat banget untuk diamalkan. Penulis ingin berbagi nasehat dari buku tersebut.

Hanya saja, mohon maaf, mungkin sudah terlalu banyak para Kyai, Da’i, Muballigh, baik yang bener maupun yang keblinger dan sekedar action, yang mengutip al-Qur’an maupun Hadits. Kali ini kutipan dari kitab Taurat. Semoga Bermanfaat. Pada maqolah kesepuluh dalam kitab tersebut terdapat nasehat yang dikutip dari kitab Taurat yang diriwayatkan oleh Al-Hasan Al-Bashri rahimahullâhu sebagai berikut:

 ان الغنية فى القناعة

 ان السلامة فى العزلة

 ان الحرمة فى رفض الشهوات

 ان التمتع فى أيام طويلة

 ان الصبر فى أيام قليلة

Untuk lebih jelasnya, berikut syarh-nya:

مكتوب فى التوراة خمسة أحرف) أى جمل (ان الغنية) اى الإكتفاء بالنفقة (فى القناعة) اى الرضا بالقسمة وسكون القلب عند عدم المألوفات (وان السلامة) من أفات اللسان (فى العزلة) أى الخروج عن مخالطة الخلق بالإنقطاع (وان الحرمة) أى العظمة (فى رفض الشهوات) أى فى تركها (وان التمتع) أى كمال الإنتفاع (فى أيام طويلة) أى فى الآخرة فى الجنة (وان الصبر) على مشاق أداء الأوامر وتحمل المرازى وعن اجتناب المناهى (فى أيام قليلة) أى فى الدنيا.

Tuh ‘kan dalem dan berat banget. Semoga bermanfaat, minimal cukup untuk bekal khothbah Jum’at. Wallâhu A’lam. (Ariez).

Petik Siwalan dan Ngebor Minyak ala Sunan Sendang

Pohon Kebanggaan; Enak dan Berkhasiat
Salah satu kebanggaan penduduk pesisir utara Jawa Timur (Tuban, Paciran –Semerek, Sendang dan sekitarnya-, dan Gresik bagian Barat) adalah pohon Ental atau Siwalan. Pohon ini buahnya enak. Enak dimakan langsung. Enak juga dibuat Dawet. Apalagi kalau Juroh-nya (gula cair khas jawa) asli-alami. ”Mak nyus,” kata Bondan Winarno.

Airnya? Orang sekitar menyebutnya Legen (Suku kata ”Le” dibaca seperti ”Le” pada kata ”Lemah”, dan suku kata ”Gen” dibaca seperti ”Gen” pada kata ”Gendong”). Jika asli diambil dari pohonnya, rasanya seribu kali Sprite dan sejenisnya. Sayang, yang dijual di pinggiran jalan sudah direbus dan dicampur gula pemanis. Namun, Legen ini jika didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi Toak atau Arak yang bisa memabukkan.

Khasiatnya? Jangan tanya deh. Jika Allah menciptakan penyakit, pasti juga menciptakan obatnya. Pesisir utara Jatim adalah daerah bebatuan kapur. Sudah tentu kandungan zat kapur airnya tinggi. Ini bisa dibuktikan ketika air tersebut dimasak, maka akan timbul endapan kapur dalam panci. Jika air ini diminum manusia, tentu penyakit semacam kencing batu akan mudah menyerang. Legen inilah yang akan menawarkan zat kapur dalam tubuh manusia. Entah, penelitian medis sudah pernah dilakukan atau belum. Yang jelas penduduk sekitar meyakininya dan mereka sehat-sehat, umurnya panjang. Sehabis Nyangkul, Ngarit dan Ndondon (istilah penduduk sekitar untuk menyebut pekerjaan mencari rumput untuk makanan ternak seperti kambing atau sapi), mereka langsung meminum air dari sumur tanpa dimasak terlebih dahulu sambil mengepulkan rokok di gubuk. Sesekali sambil menikmati Legen dan menyenandungkan sholawat Srokalan. Mereka menyebutnya Leyeh-leyeh. Bagi mereka, ini adalah puncak kenikmatan, yang bagi orang modern dianggap primitif dan ketinggalan zaman, bahkan tidak berkebudayaan. Maha Besar Allah yang telah menumbuhkan pohon tersebut di pesisir utara Jatim.

Sunan Drajad vs Sunan Sendang
Salah satu kebanggaan penduduk pesisir utara JaSunan Drajat vs Sunan Ada cerita unik tentang Siwalan. Pada masa Raden Qosim atau Kanjeng Sunan Drajat dan Raden Noer Rochmat atau Sunan Sendang masih hidup. Suatu ketika, Raden Qosim ingin menikmati Siwalan segar langsung dari pohonnya. Cukup dengan menepuk pohonnya, Siwalan yang bergelantungan di atas pohon rontok semuanya. Siwalan pun siap untuk dinikmati.

Peristiwa ini diketahui oleh Sunan Sendang. Sunan Sendang pun mengingatkan, jika demikian caranya, maka semua buahnya akan rontok, termasuk yang masih muda dan belum waktunya dipetik. Bagi Sunan Sendang cara yang dipakai oleh Sunan Drajat tidak tepat. Sunan Sendang pun menunjukkan cara yang tepat. Sunan Sendang kemudian mengelus pohon Siwalan, seketika itu juga pohon tersebut membungkuk ke arah Sunan Sendang. Dengan leluasa, Sunan Sendang memilih dan memetik Siwalan yang sudah tua dan siap untuk dinikmati. Lalu, dielusnya kembali pohon tersebut dan kembali tegaklah seperti sedia kala. Buah yang masih muda, harus sabar menunggu giliran ”dipanggil” oleh Sunan Sendang hari berikutnya.

Hari ini, menyusul liberalisasi sektor migas di Indonesia, perusahaan-perusahaan transnasional bebas mengeksploitasi sumber-sumber minyak Indonesia. Mereka bebas bergerak di sektor hulu dan hilir. Tentu, perusahaan-perusahaan tersebut menyedot habis minyak Indonesia dan mengangkutnya ke negara asal mereka. Sekedar mengasihani orang pribumi, disisakanlah sedikit. Kaum pribumi dipaksa ngirit. PLN kekurangan pasokan minyak, listrik mati terus. Ibu-ibu harus berurusan dengan aparat karena dituduh mencuri kayu bakar sebagai pengganti minyak tanah yang mulai langka. Tidak sedikit pula yang harus memilih mengakhiri hidup meninggalkan Neraka bernama Indonesia itu.

“Nanti, Dis!”
Pada masa awal kemerdekaan, perusahaan-perusahaan asing itu sudah berburu minyak ke Istana Negara untuk merayu Bung Karno. Namun Bung Karno menolaknya. Kala itu Megawati masih berusia 16 tahun. Kwik Kian Gie mengingatkan peristiwa itu ketika Megawati menjadi Presiden agar tidak menyerahkan ladang minyak kepada asing (lihat wawancara Kwik Kian Gie dalam Majalah Tempo edisi 27 Maret-2 April 2006). Dalam sebuah makalahnya, Kwik mengatakan bahwa ketika Megawati menanyakan mengapa sang Ayah menolaknya, Bung Karno menjawab ”Nanti Dis, kita tunggu sampai kita mempunyai insinyur sendiri.” Bung Karno memanggil Megawati dengan panggilan ”Gadis”. Kala itu, Bung Karno memimpikan perusahaan minyak Indonesia kelak berdiri seperti Shell dan yang lainnya. (Makalah Kwik dalam seminar memperingati 50 tahun Mafia Berkeley di Hotel Mulia, Jakarta berjudul ”50 Tahun Mafia Berkeley; Antara Kenyataan dan Fiksi”, 2006)

Belajar Kepada Sunan Sendang
Kini, perusahaan-perusahaan asing itu, atau intelektual pendukungnya, boleh saja mengejek kaum Pribumi dengan mengatakan, misalnya, ”memangnya orang Indonesia bisa mengelola minyaknya sendiri? Sudah cukupkah pengetahuan orang Indonesia untuk mengebor minyak?” Lebih dari itu, mereka berujar ”Nasionalisme sempit”. Maka orang-orang seperti ini harus belajar kepada Sunan Sendang. Dengan caranya sendiri, kaum Pribumi memiliki kemampuan mengolah sumber daya alam titipan Ilahi Robbi. Cukup dengan mengelus tanah, minyak yang dibutuhkan akan keluar dengan sendirinya tanpa harus merusak lingkungan sekitar karena limbahnya. Andai Sunan Sendang masih hidup. (Rizal)

Mbah Wahhab Chasbullah dan Bidadari Surga (2)

Masih alkisah tentang Mbah Wahhab, santrinya yang bernama Nawawi dan Bidadari Surga. Jika pada cerita sebelumnya kita bicara kuantitas, maka pada episode kali ini kita bicara kualitas. Tentu, yang dimaksud adalah kualitas bidadari surga.

Di depan santri-santrinya, Mbah Wahhab menerangkan bahwa ribuan bidadari surga yang telah disiap-sediakan untuk kita, semuanya adalah perawan. Tentu, kita tidak bisa membayangkan bagaimana fantasi para santrinya, terutama santri-santri bangkotan (tua) dan para warok (awas! “warok” di sini adalah ”warok” dalam kosa-kata pesantren tradisional, yang mungkin hanya ada dalam kamus umum bahasa pesantren, bukan waro’ dalam kosa-kata bahasa Arab yang dengan mudah bisa kita temui dalam kamus Munjid, al-Munawir atau sejenisnya).

Lagi-lagi, santrinya yang bernama Nawawi mengajukan pertanyaan. ”Kyai, apakah para bidadari surga itu tidak pernah dipakai?” tanya Nawawi. Seperti biasa, Mbah Wahhab memberinya jawaban analogi. Mbah Wahhab menyuruhnya pergi ke sungai di belakang pesantren selepas ngaji nanti (kebetulan di belakang pesantren Tambakberas terdapat sebuah sungai yang dulu merupakan tempat minum, mandi dan nyuci para santri dan kini sudah tercemar limbah pabrik). ”Terus, apa yang harus saya lakukan, kyai?” tanya Nawawi. ”Ambil sebuah batu besar lalu lemparkan ke sungai. Bila perlu, ulangi berkali-kali”, kata Mbah Wahhab. ”Maksudnya?” tanya Nawawi lagi. ”Perhatikan baik-baik, ketika batu besar itu masuk ke air, seketika itu airnya membuka tak ubahnya sebuah lubang. Seketika itu pula, lubang air itu akan menutup kembali. Demikian seterusnya. Ya, demikianlah bidadari surga itu,” Mbah Wahhab menerangkan. (Rizal)

Mbah Wahhab Chasbullah dan Bidadari Surga (1)

Menginjak usia ”dewasa”, memang paling enak bicara tentang wanita, apalagi bidadari. Berikut sebuah kisah yang penulis riwayatkan dari KH. Jamaluddin Achmad Tambakberas.

Alkisah tentang Hadlratussyeikh Abdul Wahhab Chasbullah, pengasuh PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, yang juga salah satu pendiri Nahdlatul ‘Ulama itu mengaji dan menerangkan di depan para santrinya tentang enaknya hidup di surga nanti. Suasana semakin panas ketika pembahasan memasuki wilayah ”fathul izar”. Dengan gaya khas pesantren, Mbah Wahhab, demikian sapaan akrab dan hormat KH. Abdul Wahhab Chasbullah, menceritakan bahwa di surga nanti, satu orang laki-laki bisa dan boleh mempunyai istri banyak, sepuasnya. Seratus pun bisa dan boleh.

Lalu, salah seorang santri bernama Nawawi, sambil keheranan mengajukan pertanyaan. ”Kyai, bagaimana mungkin satu orang laki-laki kuat melayani seratus perempuan?” tanya Nawawi (pertanyaan ini mungkin dilandasi pengalaman pribadinyanya atau teman-temannya melayani mairil). Mbah Wahhab pun menjawab: ”Laki-laki itu ibarat saklar, dan perempuan itu ibarat lampu.” Kebingungan, Nawawi pun menanyakan maksudnya. ”Cukup dengan menekan satu buah saklar, maka ribuan lampu akan menyala,” jawab Mbah Wahhab. (Rizal)

Tanbih:
Sepertinya, santri yang bernama Nawawi itu kemudian adalah seorang kyai besar di Jawa. Saya kurang dan tidak mengetahuinya. Mohon sumbangan informasinya. Trims.

Previous Older Entries

Start here