Pancaran kuning sinar matahari semakin memerah pertanda ia akan segera menuju peraduannya. Gerombolan burung walet pulang ke sarang menghiasi langit mengabarkan bahwa hari akan segera gelap. Saat ghurub akan segera tiba. Siang akan berganti malam.
Orang Jawa menyebut tahap tersebut dengan Candi Olo atau Cande Olo. Pada masa ini manusia harus sudah berhenti dari aktivitas keduniaan. Penggembala memasukkan ternaknya ke kandang. Pedagang menutup tokonya. Pengrajin mengemasi peralatannya. Nelayan memastikan jangkar perahunya telah tertancap dan rapat di tepi. Bahkan, jika ada yang akan bepergian, hendaknya menunda keberangkatannya minimal sampai setelah mengerjakan sholat Maghrib atau lebih baiknya lagi setelah mengerjakan sholat Isya’. Yang tidur pun harus bangun dan yang sangat mengantuk harus menahannya minimal sampai setelah melakukan sholat Maghrib atau Isya’.
Melakukan aktivitas keduniaan pada waktu Candi Olo ini diyakini masyarakat Jawa akan berdampak negatif terhadap aktivitas tersebut, apalagi untuk bermain-main. Orang tua dulu sering mengingatkan anaknya untuk berhenti main Benthik, Nekeran atau sejenisnya karena Wewe Gombel siap menerkam. Anak-anak pun bergegas pulang dan bersiap-siap menuju langgar/surau sambil memeluk Al-Qur’an di dadanya. Sholat Maghrib adalah sholat dengan batas waktu yang paling singkat. Sedemikian singkatnya, menurut kitab Taqrib jika sholat-sholat lain mempunyai beberapa waktu (fadlilah, jawaz, makruh tanzih dan tahrim dan sebagainya), maka waktu sholat Maghrib hanya satu, yaitu mulai terbenamnya matahari sampai waktu yang cukup untuk adzan, wudlu’, menutup aurat, iqomat dan mendirikan sholat 5 rokaat (3 rokaat sholat Maghrib dan 2 rokaat sholat Ba’diyyah Maghrib).
Oleh karenanya, orang tidak bisa lagi bersantai-santai menunda pelaksanaan sholat maghrib. Mitos Candi Olo ini justru semakin mendorong masyarakat untuk lebih awal bergegas melakukan persiapan sholat Maghrib secara berjamaah, baik di Surau, Masjid maupun di rumah bersama keluarga. Biasanya, 10 s.d 5 menit sebelum masuk waktu maghrib Langgar dan Masjid sudah ramai para jama’ah. Praktis sholat berjama’ah dapat dilaksanakan dengan tenang, tertib dan khusyu’ tanpa gangguan suara berisik ma’mum masbuq yang telat.
Nuansa relijius nan damai, khidmat dan khusyu’ pun menyatu padu dengan mitos Candi Olo. Suara Bedhug yang bertalu-talu, gema Adzan yang melengking sahut-menyahut, semarak nyanyian syi’ir puji-pujian semacam Tombo Ati sebelum lafadz Iqomat dikumandangkan, lantunan Ayat-ayat Al-Qur’an, terutama surat Yaasiin dan Al-Kahfi serta Tahlil pada malam Jumat, semuanya terpadu bagai sebuah orkestra abadi yang melampaui perubahan masa. Hati siapa tak tersayat-sayat mendengar alunannya. Jiwa siapa tak tergetar meresapi maknanya. Raga siapa tak takluk dipeluk kemegahannya. Manusia pun bersujud tak berdaya kepada Sang Pengatur Jagat Kang Moho Murbowaseso sebagaimana sang mentari yang telah meringkuk di balik ufuk tak lagi garang menyengat. (Rizal)



Ooo gt ta artiny cand olo 2…..
Oleh: Andi k on Mei 29, 2010
at 7:06 am