Hari Jumat adalah sayyidul ayyaam. Banyak keistimewaan yang ada pada hari tersebut. Salah satu yang membedakan hari tersebut dengan hari-hari lainnya adalah adanya kewajiban menunaikan Sholat Jumat secara berjamaah, bagi yang memenuhi syarat-syarat wajibnya tentunya.
Begitu istimewanya, para santri dan warga di pelosok desa memilihnya sebagai hari libur dari aktivitas keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Sang Moho Murbowaseso. Pada malam harinya, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan kalimat-kalimat thoyyibah menggema dari berbagai penjuru melalui corong pengeras suara. Saat pagi menyambut, selepas menunaikan sholat shubuh dengan berbagai wirid-nya, para warga biasanya melakukan kerja bakti membersihkan desa, terutama jalan umum dan kuburan. Bagi yang bekerja, agenda berikutnya adalah bekerja setenagh hari; pergi ke sawah atau ke pasar.
Demikian halnya dengan warga desa Sendangduwur. Untuk mengingatkan warganya yang sedang melakukan aktivitas, jauh waktu sebelum masuk waktu sholat Jumat, Merbot masjid sudah memukul Bedhug. Jika pada siang hari pada hari-hari biasa Bedhug dipukul pada saat memasuki waktu sholat dzuhur, tidak demikian halnya pada hari Jumat. Pada hari Jumat, Bedhug dibunyikan sebanyak dua kali; menjelang masuk waktu dan pagi hari sekitar pukul 9.
Bedhug yang dibunyikan pada pukul 9 pagi ini, oleh orang Sendang, disebut dengan Bedhug Penetek (suku kata “pe-ne-tek” dibaca seperti “pe” dalam “pedang”, “ne” dalam “neraka”, dan “tek” dalam “tekan”) atau disebut juga dengan Bedhug Cilik atau Bedhug Kecil. Praktis, aktivitas warga pada hari Jumat tidak akan seleluasa pada hari-hari lain karena suara Bedhug Penetek tersebut akan menggerakkan hati untuk segera meninggalkan aktivitas keduniaan dan melakukan persiapan menuju masjid. Sebagian di antara mereka ada yang langsung meninggalkan urusan dunianya dan bergegas menuju masjid untuk ber-I’tikaf. Bedhug selanjutnya dipukul 5 menit sebelum masuk waktu sholat secara terus menerus mengiringi lantunan Sholawat Tarhim, dan berhenti ketika adzan pertama akan dikumandangkan. Dengan demikian, ketika adzan pertama dikumandangkan diharapkan seluruh warga sudah berkumpul di Masjid, dan pada saat adzan kedua shof sudah tertata rapi. Khutbah Jumat pun dimulai dalam suasana yang sangat tenang dan tidak gaduh. Tata cara yang demikian ini telah mentradisi turun-temurun hingga membuat suasana pada hari Jumat serasa lebih sakral dan khidmat.
Apa yang telah mentradisi di desa Sendangduwur tersebut tidak lain hanyalah meneruskan apa yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Utsman ibn ‘Affan ra dengan perpaduan budaya setempat. Adzan Jumat sejak masa Nabi hingga masa khalifah kedua hanya sekali, yaitu ketika Khothib duduk di atas mimbar (bukan podium). Ketika jumlah kaum muslimin telah semakin banyak yang tersebar di berbagai pelosok, Sayyidina Utsman kemudian berijtihad untuk menambah adzan pada saat masuk waktu sholat. Adzan tambahan ini pada masa Utsman dilakukan di sebuah tempat yang bernama Zauro’ (زوراء), yaitu sebuah tempat di pasar, ada yang mengatakan sebuah tempat yang tinggi seperti menara dan ada juga yang mengatakan batu besar yang ada di pintu masjid (mengenai ijtihad Utsman menambah Adzan, lihat misalnya dalam kitab Tajriidushshorih, juga syarahnya, Fathul Mubdi karya Syiekh ‘Abdulloh ibn Hijazi Al-Syarqowi Juz 1 hlmn 499). Dengan demikian urutannya adalah adzan pertama saat masuk waktu sholat, adzan kedua saat khothib di atas mimbar dan iqomat saat sholat Jumat akan dimulai. Ijtihad Utsman ini kemudian menjadi Ijma’ Sukuti dan diteruskan oleh para Shahabat, tabi’in, tabi’ittabi’iin dan seterusnya hingga ke desa Sendangduwur.
Oleh para pendahulu desa Sendangduwur, tidak hanya adzan yang ditambah, tapi juga pemukulan Bedhug. Semua ini tentu demi ke-khusyu’-an pelaksanaan sholat Jumat. Demikain kearifan Sunan Sendang beserta murid-muridnya memasukkan nilai-nilai Islam dalam kultur masyarakat Sendangduwur. (Ahmad Rizal AF)



memang org-org tua dulu itu arif dan bijaksana dlm memahami Agama dan Tradisi.
Oleh: bejo on Juni 8, 2009
at 1:57 am
Mmang syaidina Usman melakukan pnambhan adzan pertama mrupakn k’aripan yg brdsarkn kemanfaatn shngga mnjdikn hl trsbt ijma’ sukuti, namun apakh perbuatn orng tua dulu dsa sendangduwur dngn mnmbhkn bedhug penetek sblum adzan sma halnya dngn dmikian..? Buknkah itu mrpkn bid’ah yg dpt mnjrumuskn kedlm neraka dakhirat nanti…
Oleh: Fauzi on Juni 15, 2009
at 5:25 am
NB: mkusudnya sama adalah, sama2 dlam kapasitasnya. Syaidina Usman kapasitasnya selain sbagai sahabat juga trmsuk slh satu “khulafaurrosyidin” yaitu orng yg harur diikuti stelah Rosulallah saw, Orang tua dulu desa sendangduwur apa..?. Juga sama dalam kemanfaatannya, syaidina Usman jelas melakukannya karna msyrarakat yg brkwjibn shalat juma’t mkin meluas dtambah blum dtmuknnya alat pngeras suara seperti sekarang.Sekarang sudah dtemukan? Jadi perlu dtanyakn kembli ke ‘aripannya itu di mana.??
Oleh: Fauzi on Juni 15, 2009
at 5:58 am
Rizal bagimana tulisanmu kok gak up date lagih??
-darna-
Oleh: sudarna on Oktober 22, 2009
at 6:42 pm
hehe.. iya nih.. sibuk fesbukan..
Oleh: Ahmad Rizal AF on Oktober 24, 2009
at 2:04 am