Oleh: Ahmad Rizal AF | November 6, 2008

Kyai Hamid dan Bendera Merah Putih

Apalah arti sebuah simbol. Mungkin bagi segenap kalangan, simbol bukanlah hal yang terlalu penting untuk dipermasalahkan.

Ternyata, pemerintah Kolonial Belanda, kala itu, termasuk kalangan yang mempermasalahkan simbol. Para muassis Republik Indonesia pun harus berurusan dengan penjara, hanya karena nama Indonesia. Bahkan, konon, pesantren pun turut menjadi intaian mata-mata Belanda hanya karena mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Tidak lain adalah karena nama Indonesia dan lagu Indonesia Raya merupakan simbol perlawanan nasional kaum pribumi Nusantara dalam rangka membebaskan tanah air-nya dari kolonialisme Belanda kala itu.

Satu lagi simbol yang juga mengusik pemerintah kolonial kala itu, bendera Merah Putih. Hingga kini, ketiga simbol tersebut adalah identitas Nasional yang begitu melekat dengan segenap tumpah darah kaum pribumi Nusantara. Tidak jarang kita temukan tetes haru dan bangga mengiringi ”ritual” pengibaran bendera Merah Mutih, yang melambangkan keberanian dan kesucian itu. Terutama ketika memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, atau momen sakral nasional lainnya.

Salah satu pesan penting dalam ritual hormat kepada sang Merah Putih adalah sebagai simbol rasa syukur dan bangga atas kemerdekaan negeri Indonesia. ”Memberikan penghormatan kepada bendera, apa tidak termasuk musyrik atau bid’ah? Kenapa tidak langsung saja kepada Allah SWT?” Setidaknya, pertanyaan demikian sempat menjadi polemik tersendiri. Berikut kiat jitu KH. Abdul Hamid Tambakberas (adik dari KH Abdul Wahhab Chasbullah) menyikapi polemik tersebut. Kyai Hamid menyodorkan ibarot yang berupa syi’ir berikut:

أمر على الديار ديار ليلى # أقبل ذا الجدار وذالجدارا
وما حب الديا ر شغفن قلبى # ولكن حب من سكن الديارا

Syi’ir tersebut didendangkan oleh Qays Majnun yang dipersembahkan untuk Layla, sang kekasih pujaan hati. Melalui syi’ir tersebut, Qays menceritakan bahwa ketika melintasi rumah Layla, dirinya menciumi sudut-sudut tembok rumah Layla. Pada hakekatnya, bukan Qays mencintai tembok rumah tersebut, tapi karena mencintai penghuninya, yaitu Layla.

Demikian juga dengan penghormatan terhadap Bendera Sang Merah Putih. Pada hakekatnya penghormatan itu bukan ditujukan kepada jenggereng (fisik) bendera yang hanya terbuat dari selembar kain, tapi ditujukan kepada Dzat Yang Maha Kuasa Sang Pemberi Kemerdekaan, Allah SWT melalui perantara para pejuang dan syuhada. Oleh karenanya, sangat tepat jika setelah bendera berkibar di atas langit, sesi selanjutnya adalah mendoakan arwah para syuhada atau sering dikenal dengan sesi ”mengheningkan cipta” dengan menundukkan kepala ke arah tanah tempat kita akan kembali nanti menyusul para syuhada yang telah mendahului kita dan meninggalkan megahnya dunia. (Rizal)


Tanggapan

  1. mas itu yang tulisan arab itu apa artinya…?

  2. Paragraf di bawah tulisan arab (syi’ir) itu adalah makna murodnya. Tims, atas kunjungannya…

  3. tulisannya idealis bgd mas, semacam pengetahuan. sepertinya orgnya juga idealis. kuat mempertahankan ide jg. sukses


Beri tanggapan

Your response:

Kategori