Masih alkisah tentang Mbah Wahhab, santrinya yang bernama Nawawi dan Bidadari Surga. Jika pada cerita sebelumnya kita bicara kuantitas, maka pada episode kali ini kita bicara kualitas. Tentu, yang dimaksud adalah kualitas bidadari surga.
Di depan santri-santrinya, Mbah Wahhab menerangkan bahwa ribuan bidadari surga yang telah disiap-sediakan untuk kita, semuanya adalah perawan. Tentu, kita tidak bisa membayangkan bagaimana fantasi para santrinya, terutama santri-santri bangkotan (tua) dan para warok (awas! “warok” di sini adalah ”warok” dalam kosa-kata pesantren tradisional, yang mungkin hanya ada dalam kamus umum bahasa pesantren, bukan waro’ dalam kosa-kata bahasa Arab yang dengan mudah bisa kita temui dalam kamus Munjid, al-Munawir atau sejenisnya).
Lagi-lagi, santrinya yang bernama Nawawi mengajukan pertanyaan. ”Kyai, apakah para bidadari surga itu tidak pernah dipakai?” tanya Nawawi. Seperti biasa, Mbah Wahhab memberinya jawaban analogi. Mbah Wahhab menyuruhnya pergi ke sungai di belakang pesantren selepas ngaji nanti (kebetulan di belakang pesantren Tambakberas terdapat sebuah sungai yang dulu merupakan tempat minum, mandi dan nyuci para santri dan kini sudah tercemar limbah pabrik). ”Terus, apa yang harus saya lakukan, kyai?” tanya Nawawi. ”Ambil sebuah batu besar lalu lemparkan ke sungai. Bila perlu, ulangi berkali-kali”, kata Mbah Wahhab. ”Maksudnya?” tanya Nawawi lagi. ”Perhatikan baik-baik, ketika batu besar itu masuk ke air, seketika itu airnya membuka tak ubahnya sebuah lubang. Seketika itu pula, lubang air itu akan menutup kembali. Demikian seterusnya. Ya, demikianlah bidadari surga itu,” Mbah Wahhab menerangkan. (Rizal)
Tanbih:
Mohon maaf kalau bias jender. Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan teori-teori jender.



zal blognya kurang rame.. nte link ke mana2 gitu buar banyak komentar masuk…^_^ he he he he
kan enak bisa juga buat sharing ama yang sepaham ama nte
cayooo………….
semoga blogmu bisa jadi rujukan…dari para pecinta blog…hehehe..
Oleh: mundir on November 16, 2008
at 8:56 am