Sama dengan buku favorit penulis sebelumnya, buku ini tipis, simpel, dan padat-berisi. Memang, menggambarkan watak muallif-nya, susunan kalimatnya terkesan berkobar-kobar dan berkoar-koar hingga membuatnya terkesan kurang ilmiah, namun pesan-pesan yang ada di dalamnya sangat layak untuk diperhatikan. Ya, buku tersebut adalah ”Mentjapai Indonesia Merdeka” karya salah seorang muassis Republik Indonesia yang juga mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno. Karena dia seorang Insinyur yang ”dikutuk” menjadi Presiden Pertama RI, mungkin lebih tepat disebut sebagai arsitek negara Republik Indonesia. Apalagi di masa-masa awal kemerdekaan si Bung Besar ini sering menyebut istilah caracter building. Menjelang detik-detik peringatan Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI, tepat untuk menghadirkan karya tersebut.
Konon, buku ini termasuk salah satu masterpis khazanah perbukuan Republik Indonesia. Sayang, untuk menemukannya agak susah, bahkan susah sekali. Ironis, pikiran-pikiran yang turut membidani lahirnya sebuah negara, tapi tidak mudah ditemukan di negara tersebut. Tapi Alhamdulilllah sekaligus Masya Allah, penulis berhasil mendapatkannya meski bukan di toko buku besar dan ”resmi”, tapi di toko buku bekas, sudah tentu buku tersebut adalah bekas. Entah sudah tangan ke berapa.
Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Soekarno sendiri, diawali dengan perkataan Tilak, seorang tokoh pergerakan nasional India; ”Hanya rakyat yang mau merdeka bisa merdeka.”
Kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang sebab mengapa Indonesia tidak merdeka. Benar, bahwa Indonesia pernah merdeka, yaitu sebelum datangnya imperialisme Eropa demikian Bung Karno mengingatkan Dr. Pieter J. Veth, etnolog asal Belanda (1814-1895) yang dalam syairnya menganggap Indonesia tidak pernah merdeka. Tapi saat itu kemerdekaan tidak sampai menyentuh kaum Marhaen. Di bawah feodalisme, kata Bung karno, kaum Marhaen hidup ”nek awan duweke sing nata, nek wengi duweke dursila” (h. 13).
Dari Imperialisme kuno, Bung Karno menguraikan perubahannya menjadi Imperialisme Modern, yaitu Imperialisme Modal. Melalui Agrarische Wet dan Suiker wet-deWaal tahun 1870, masuklah modal-modal partikelir dari Belanda, Amerika, Jerman, Perancis, Italia, Jepang dan lain-lain. Mereka memonopoli perekonomian Hindia-Belanda. Secara detail, Bung Karno memaparkan nilai ekspor kekayaan alam Indonesia untuk memenuhi keserakahan Eropa. Dari hasil ekspor yang besar tersebut, berapa hasil kaum pribumi?
Pada masa Imperialisme Eropa inilah, nasib kaum Marhaen semakin memprihatinkan. Mereka diperas semakin parah oleh Imperialisme Modern yang berkembang ganas dan oleh Soekarno digambarkan sebagai ”Raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh”. Bung Karno memberikan contoh rata-rata penghasilan kotor Kang Marhaen kala itu adalah f 158. Penghasilan ini harus dikurangi biaya landrente, pajak kepala, Inlandse Verponding, dan pungutan lainnya. Mengutip Dr. Hueder yang Belanda itu, Bung Karno mengatakan bahwa dari hasil tersebut Kang Marhaen masih harus mengeluarkan uang senilai f 22.50. Dengan demikian uang yang tersisa di kantong Kang Marhaen adalah f 135.50. Uang ini akan digunakan Kang Marhaen untuk menghidupi keluarganya selama 12 bulan. Bung Karno memberikan penilaian sebagai rekor rakyat termelarat di muka bumi ini.
Sulitnya hidup kaum Marhaen itu juga diceritakan Soekarno dengan mengutip berita dari berbagai media. Dalam Darmokondo edisi 11 Juli 1932, terdapat berita tentang sepasang suami-istri di kampung Pagelaran, Sukabumi tidak mampu lagi menghidupi diri dan keluarganya. Mereka pun menjual anaknya kepada siapapun yang mau membelinya. Pertja Selatan edisi 7 Mei 1932, memberitakan di desa-desa orang-orang makan dua hari sekali. Pewarta Deli edisi 7 Desember 1932 memberitakan ”Di Kota sering ada orang yang menyamperi pintu bui, minta dirawat di bui saja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Di bui masih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari…” Dan lain-lain.
Akibatnya, kaum pribumi menjadi rakyat yang hilang kepercayaannya, hilang kegagahannya, hilang kepribadiannya. Rakyat Indonesia menjadi ”het zachtste volk der aarde”, atau rakyat yang paling lemah budi di seluruh muka bumi. Semangat Harimau yang dimiliki kaum pribumi telah menjadi semangat kambing yang lunak dan pengecut.
Untuk mengakhiri keadaan tersebut, bagi Bung Karno, tidak ada lain yang harus dilakukan selain ”bergerak” dan ”bergerak”. Kaum Marhaen harus membuang jauh-jauh obat tidur Imperialisme yang berupa ”beschaving” dan ”erde en rust” yang selalu digunakan untuk mengelabui kaum pribumi agar tidak bergerak. Tidak cukup dengan itu, keberadaan partai pun harus seiring dengan cita-cita tersebut dengan dukungan massa aksi yang radikal. Tanpa radikalisme massa aksi, kata Bung Karno, Partai tidak akan ada gunanya. Juga, terhadap Imperialisme, non-kooperasi harus tegas menjadi pilihan karena ”sana mau ke sana, sini mau ke sini”, oleh karenanya tidak pernah bisa bertemu dan dikompromikan. Dengan demikian, kata Bung Karno, fajar akan mulai menyingsing dan terbitnya matahari dari timur tidak bisa dielakkan.
Namun, Bung Karno mengingatkan, kemerdekaan hanyalah jembatan, meskipun jembatan emas, tapi tetaplah jembatan. Bagi Bung Karno, kemerdekaan (politik, pen) hanyalah syarat pertama untuk melepaskan diri dari stelsel kapitalisme-imperialisme. Mengapa demikian? Karena Indonesia Merdeka belumlah menjamin kesejahteraan kaum Marhaen. Di seberang jembatan, kata Bung Karno, jalan pecah menjadi dua; satu ke Dunia Keselamatan Marhaen, satu ke Dunia Kesengsaraan Marhaen; satu ke Dunia Sama Rata-Sama Rasa, satu ke Dunia Sama Ratap-Sama Tangis. Agar jangan sampai jatuh kepada pilihan kedua, lanjut Bung Karno, kaum Marhaen harus mempertahankan kemerdekaan itu dengan tangan besi dan tangan baja kaum Marhaen. Bagi Bung Karno, pengalaman revolusi Perancis adalah contoh buruk bagi proses kemerdekaan yang berakhir dengan ”tertipu”-nya kaum Marhaen.
Lebih lanjut, Bung Karno mengingatkan agar kaum Marhaen tidak tertipu dengan slogan-slogan kerakyatan yang dipropagandakan banyak golongan; kaum radikal, kaum reformis, kaum banci, kaum demokrat, juga jaum borjuis dan ningrat. Semua meneriakkan slogan kerakyatan. Kritikan terhadap demokrasi yang diterapkan oleh ”negara-negara sopan” (Eropa dan Amerika) mewarnai halaman-halaman terakhir karya tersebut sebelum akhirnya menutupnya dengan optimisme terhadap massa aksi Indonesia untuk ”mencapai Indonesia Merdeka”. Merdeka!!! (Rizal)